Seorang romo atau pastor, Rm. Markus Marlon, imam dari ordo MSC, menulis sebuah renungan bagus yang berjudul "JALAN".
Ajakan romo Markus untuk berjalan di dalam hidup mengingatkan saya
bahwa hidup memang adalah sebuah perjalanan..sebuah pengalaman..sebuah
peziarahan. Dan saya ingat perkataan Don Giussani, pendiri Gerakan
'Communion and Liberation': "Di dalam peziarahan, nantikanlah sebuah
perjalanan, sebuah langkah, agar
menempatkan diri kalian di dalam tingkah laku yang baik, supaya tidak
menantikan sesuatu yang bermukjizat" (...) "Oleh karena itu adalah hal
yang penting untuk melakukan perjalanan, langkah yang diajukan oleh
Gereja melalui Gerakan ini, agar keterbukaan hati kita, kesadaran diri
atas kebutuhan ini menjadi lebih stabil dan lebih nyata lagi."
Semoga Bunda Maria mengiringi langkah hidup kita selamanya. Amin.
VENI SANCTE SPIRITUS VENI PER MARIAM.
Berikut adalah tulisan Rm. Markus tersebut:
JALAN
(Kontempasi Peradaban)
Ketika saya hendak berkunjung kesalah satu keluarga di Manado – di
bilangan kota Teling, saya agak heran karena dulu nama jalan itu adalah
Jalan Anoa. Tetapi sekarang nama Jalan itu sudah tidak ada dan yang
masih ada adalah Jalan 14 Februari. Setelah saya bertanya kepada
penduduk setempat, ternyata nama Anoa itu telah di-pleset-kan
(“digelincirkan”) oleh penduduk lain, menjadi akronim: Anak Nakal Otak
Anjing. Padahal nama Anoa (hewan endemic Sulawesi) itu indah. Karena
nama Jalan itu menjadi “tidak baik” orang-orang yang tinggal di Jalan
Anoa tersebut sengaja menghilangkan nama yang indah itu, Anoa.
Tahun berikutnya (2112), saya mengadakan perjalanan ke Jawa Barat. Di
sepanjang jalan saya merasakan adanya kejanggalan, ketika melihat
nama-nama Jalan di sana. Di sana tidak ada nama Jalan yang menggunakan
nama Gajah Mada. Sekonyong-konyong terbersit dalam pikiran saya dengan
novel yang pernah saya baca yang berjudul Perang Bubat yang terjadi
tahun 1357 tulisan Langit Kresna Hariadi. Dalam novel tersebut,
dikisahkan tentang Dyah Pitaloka putri Raja Galuh Pajajaran. Dalam
Perang Bubat tersebut, Patih Gajah Mada (circa 1290 – 1364 ) amat
berperan besar. Mungkin karena itulah nama Gajah Mada sengaja dilupakan,
bahkan ingin dihapus dari ingatan negeri Parahiyangan. Wallahualam bi
shawab!!
Mengontemplasikan makna Jalan, kita diajak untuk
memasuki relung-relung kehidupan itu sendiri, dari Jalan yang biasa
(street atau road) hingga Jalan menuju kepada keabadian (eternity). Maka
tidak mengherankan jika muncul kata sirotol mustaqim (Jalan menuju
surga), yang menurut bahasa Injil adalah sempitlah jalan menuju kesurga
(Mat 7: 13 – 14).
Orang seperti saya yang terlahir di ndesa
kluthuk (desa yang sangat udik) tentu banyak pengalaman mengenai Jalan.
Saya masih teringat bagaimana di sepanjang jalan desa kami ada kendi
yang diletakkan di depan rumah oleh tuan rumah. Ternyata kendi-kendi
tersebut disediakan bagi orang-orang yang mengadakan perjalanan dari
desa ke desa (zaman dulu belum ada kendaraan dan listrik pun belum
masuk). Keramahtamahan dari tuan rumah pada zaman itu sungguh luar
biasa. Para “peziarah” itu dengan mudah bertanya kepada penduduk
setempat, arah mana yang harus ditempuh (Bdk. Peribahasa, “Malu bertanya
sesat di jalan”), apalagi banyak persimpangan. Pada waktu itu memang
belum ada petunjuk jalan, rambu-rambu maupun marka yang menjadi
fasilitas bagi para pengguna jalan seperti zaman sekarang ini.
Sebuah jalan bisa menjadi kenangan, seperti lagu yang berjudul,
“Sepanjang Jalan Kenangan” ciptaan Is Haryanto dan dipopulerkan oleh
Tetty Kadi (1969). Menjadi kenangan karena – barangkali – di jalan
tersebut untuk pertama kali berjumpa dengan kekasih hati. Jalan menuju
kota Wonosari – Gunung Kidul dulu ada Jalan yang namanya Irung Petruk
(hidung Petruk) yang bentuknya seperti hidung Pinokio (Novel ini ditulis
oleh Carlo Collodi yang lahir di Florence 1826 – 1890). Para muda-mudi
yang sedang jatuh cinta dan berduaan naik kendaraan bermotor akan
mengatakan bahwa mereka memasuki “tikungan mesra.” Pengalaman seperti
inilah yang menjadi kenangan. NH Dini dalam novelnya yang berjudul
Sebuah Lorong di Kotaku, menceritakan tentang sebuah lorong yang memberi
kenangan di masa kecil. Kita pun tentu memiliki kenangan tersendiri di
sepanjang Jalan hidup ini. Petrus – Paus Pertama memiliki pengalaman
tersendiri mengenai Jalan. Di Jalan Appia atau Via Appia, Petrus hendak
melarikan diri dari penyiksaan dan pembantian orang-orang Kristen di
kota Roma. Sementara hendak keluar dari kota Roma di Via Appia, ia
bertemu dengan seseorang dan berkata, “Quo vadis Domini?” Dan “Tuan” itu
pun berkata, “Aku hendak ke Roma untuk disalibkan yang kedua kali.”
Dari sanalah Petrus sadar bahwa “Tuan” itu adalah Yesus (Kisah
selengkapnya bisa dibaca dalam novel berjudul Quo Vadis tulisan Henryk
Sienkiewicks).
The Beatles – group music dari Liverpool
memandang Jalan sebagai jejak-jejak kehidupan. Syair yang berbunyi, “The
long and winding road” mengajak kita untuk mengontemplasikan akan
kehidupan yang panjang dan penuh liku. Dan kadang dalam menapaki Jalan
ini, kita mengalami banyak susah-derita. MalahanYesus bersabda, “Setiap
orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul
salibnya setiap hari dan mengikuti Aku” (Bdk. Luk 9: 23). Tidak heran
jika tradisi kekatolikan menanamkan Jalan salib atau Via Dolorosa (Jalan
Penderitaan) sebagai sarana untuk menghayati kehidupan Yesus. Jalan
Salib menjadi permenungan umat manusia. Melalui Jalan Salib itu, kita
merenungkan akan penghakiman terhadap orang yang tidak berdosa (Yesus
diadili secara tidak adil), diolok-olok (orang-orang yang menertawakan
dan mencibir), jatuh dalam perjalanan (Yesus Jatuh tiga kali),
perjumpaan dengan orang-orang yang tulus (Simon dari Kirene dan
Veronica), ditolong oleh orang-orang yang prihatin (ibu-ibu Yerusalem
yang menangisi Yesus), dipukul dan disiksa (algojo-algojo Romawi)
akhirnya diancam dan dibunuh.
Jalan dalam bahasa Jawa
diartikan sebagai dalan. Orang yang hidupnya tidak lurus disebut sebagai
orang yang “ora ndalan” yang berarti hidupnya tidak tahu aturan. Jalan –
dengan demikian – dikandung maksud sebagai suatu arah, pedoman dan
tujuan. Oleh karena itu, tidak salahlah jika hakekat jalan pun memiliki
makna religious. Jalan menuju keabadian. Orang-orang Mesir meyakini
bahwa untuk menghadap Osiris perlu peta atau denah yang ditaruh di bawah
kepala orang yang yang sudah meninggal. Mereka beranggapan bahwa peta
itu merupakan petunjuk arah menuju Osiris (dewa bawah tanah dan hakim
orang mati). Bagi orang Yunani, orang yang meninggal itu dalam bibirnya
diselipi koin emas. Ini dipakai untuk “membayar” orang yang
menyeberangkan sungai dan bertemu dengan Dewa Hades (Dewa Kematian).
Orang-orang Katolik mengenal yang namanya viaticum yang adalah sakramen
bagi orang-orang yang dalam sakit berat dan sebagai bekal Jalan (via)
menghadap Bapa di surga atau viaticum dalam bahasa Teologi diartikan
sebagai “makanan bagi yang mengadakan perjalanan.” Komuni suci yang
diberikan kepada orang yang akan meninggal untuk menyiapkannya bagi
kehidupan yang akandatang.
Jalan juga sering diartikan sebagai
way of life – cara hidup. Maka tidak mengherankan jika Yesus menyebut
diri-Nya sebagai Jalan. Via vita, via verita – Jalan Kehidupan dan Jalan
Kebenaran (Bdk. Yoh 14: 6).
Sebenarnya saya hendak menutup
tulisan ini seperti yang ditulis oleh Thomas Aquinas (1225 – 1274). Ia
berbicara secara analog mengenai Allah dengan merumuskan: Via
Affirmationis (Jalan Peneguhan), Via Negationis (Jalan Penyangkalan) dan
Via Eminentiae (Jalan Mulia). Tetapi sementara berpikir-pikir untuk
menyusun kata-kata, sahabat saya mengajakku Jalan-Jalan. Dalam benakku
sempat terpikir bahwa Jalan-Jalan itu tidak memiliki tujuan, sekadar
mlaku-mlaku (bahasa Jawa) atau sirèng-sirèng atau klinthong-klinthong
atau sightseeing. Namun supaya tidak mengecewakan yang mengajak
Jalan-Jalan, saya mencoba untuk memaknai Jalan-Jalan itu sebagai suatu
Perjalanan (journey). Maka tidak mengherankan jika perjalanan hidup itu
pun harus ditulis dalam Buku Jurnal. Hidup adalah suatu Perjalanan dan
bukan hanya Jalan-Jalan, pun pula bukan Jalan di tempat. Einstein (1879 –
1955) pernah berkata, “Sepeda itu baru bisa Jalan kalau bergerak dan
tidak jalan di tempat. Dan jika tidak bergerak maka akan jatuh.” Kita
pun sudah layak dan sepantasnya dalam nglakoni (bahasa Jawa dari kata:
laku, mlaku yang berarti Jalan) hidup ini dengan bergerak, “Yok Jalan!”
Senin, 15 Juli 2013 Markus Marlon
Wednesday, July 17, 2013
Intermezzo
+++
Kalo sudah besar mau nabung banyak duit buat ke Yerusalem, ke Vatikan buat ketemu Paus Fransiskus. Tiap bangun pagi berdoa Aku Percaya, Bapa Kami, siangnya Malaikat Tuhan kalo malam Salam Maria bahasanya campur2 Bahasa Latin. Biar keren. Ngomongin dogma doktrin Gereja di Katekismus sama seputar Liturgi musiknya lagu2 Gregorian. Engga pernah ninggalin rumah tanpa kalung Rosario di kocek. Makanan apa aja halal tapi kalo hari Jumat pantang makan daging kalo lewat depan Gereja pasti bikin tanda salib. Puasanya 40 hari 24 jam, makan kenyang sekali tapi engga boleh ketahuan lagi puasa atau berdoa. Setiap hari Minggu wajib misa Ekaristi, kalo pengen apa2 tinggal minta lewat Bunda Maria. Menikah cuma sekali sampai pasangannya mati engga boleh cerai apalagi poligami. Kalo dijahatin orang engga boleh membalas, setiap hari mikirin soal Dosa Berat - Dosa Ringan. Cita2nya pengen sebelum mati masih bisa dan boleh menerima Sakramen Maha Kudus.
+++
Menjadi Katolik itu menyenangkan tapi sulit buat dijalani [?!?]
Kalo sudah besar mau nabung banyak duit buat ke Yerusalem, ke Vatikan buat ketemu Paus Fransiskus. Tiap bangun pagi berdoa Aku Percaya, Bapa Kami, siangnya Malaikat Tuhan kalo malam Salam Maria bahasanya campur2 Bahasa Latin. Biar keren. Ngomongin dogma doktrin Gereja di Katekismus sama seputar Liturgi musiknya lagu2 Gregorian. Engga pernah ninggalin rumah tanpa kalung Rosario di kocek. Makanan apa aja halal tapi kalo hari Jumat pantang makan daging kalo lewat depan Gereja pasti bikin tanda salib. Puasanya 40 hari 24 jam, makan kenyang sekali tapi engga boleh ketahuan lagi puasa atau berdoa. Setiap hari Minggu wajib misa Ekaristi, kalo pengen apa2 tinggal minta lewat Bunda Maria. Menikah cuma sekali sampai pasangannya mati engga boleh cerai apalagi poligami. Kalo dijahatin orang engga boleh membalas, setiap hari mikirin soal Dosa Berat - Dosa Ringan. Cita2nya pengen sebelum mati masih bisa dan boleh menerima Sakramen Maha Kudus.
+++
Menjadi Katolik itu menyenangkan tapi sulit buat dijalani [?!?]
Monday, June 17, 2013
Pengalaman ziarah "Totombok"
Sekitar setahun yang lalu, saya dan beberapa teman pergi ke sebuah tempat ziarah yang katanya disana pemandangannya indah serta udaranya sejuk sekali. Karena katanya tempat itu dekat dengan kaki Gunung Ceremai. Tempat itu terletak di desa Cisantana, Kuningan. Maka kami bertiga pun pergi ke tempat tersebut dengan menggunakan bus, yaitu bus jurusan Bandung-Cirebon, karena tidak ada yang langsung ke Kuningan. Maka kami harus naik 2x bus. Akhirnya kami pun berangkat dari Bandung pukul 10 pagi. Jalanan macet sekali saat itu. Akhirnya setelah 4 jam, kami pun tiba di Cirebon, dan kemudia kami naik lagi bus kecil menuju Kuningan. 1 jam kemudia kami sampai di Kuningan, dekat Cigugur. Lalu kami bertanya pada penduduk setempat bagaimana untuk bisa ke tempat ziarah Cisantana. Si mamang bilang kalau kami harus naik ojek. Maka kami pun mengambil 3 ojek kesana. 15 menit berlalu dan kami sampai di tujuan. Langsung kami pun mencari tempat Jalan Salib, yang mana setelah 14 perhentian/ stasinya kami akan langsung menuju Gua Maria.Yang bikin terkejut adalah ternyata Jalan Salibnya sangat menanjak, seperti kita harus mendaki bukit, tak heran penduduk sekitar menyebutnya "Totombok". Sungguh sangat melelahkan, karena ada 14 stasi yang harus dilewati dan jalannya semakin menanjak. Tapi untung kami tidak beribadat Jalan Salib sendiri karena ada juga beberapa peziarah dan umat sekitar yang ikut prosesi ini.
Ini foto salah satu stasi yang sempat kami abadikan sebagi kenang-kenangan. Pada akhirnya singkat cerita, setelah 1 jam lebih kami beribadat prosesi Jalan Salib, kami pun tiba di Gua Maria, namanya yaitu Gua Maria Sawer Rahmat (Gua Maria yang penuh berkat). Sungguh suatu tempat di atas bukit yang sangat indah dan sejuk. Tak lupa di situ kami pun berdoa atas segala kenikmatan ini. Kami pun mengunjungi kapel di dekat situ untuk berdoa juga dan istirahat sejenak sebelum akhirnya turun kembali. Jalur pendakian dan turun Totombok dibedakan agar peziarah yang naik dan turun tidak "paadu" atau "pasalingsingan".
Setelah turun kami pun memutuskan untuk menginap di hotel dekat situ, karena hari sudah malam. Baru keesokan harinya kami pulang kembali ke Bandung dengan membawa banyak kenangan dan juga berkat dari peziaran kami tersebut.
Segitu mungkin cerita singkat pengalaman saya di Totombok yang sungguh berkesan di hati. Semoga cerita ini bermanfaat bagi semuanya. Akhir kata saya ucapkan terima kasih. Mugia berkah sareng rahmat ti Gusti urang Yesus nyarengan anjeun sadayana. Amin
(Karya orisinil Deki Bagus H)
Ini foto salah satu stasi yang sempat kami abadikan sebagi kenang-kenangan. Pada akhirnya singkat cerita, setelah 1 jam lebih kami beribadat prosesi Jalan Salib, kami pun tiba di Gua Maria, namanya yaitu Gua Maria Sawer Rahmat (Gua Maria yang penuh berkat). Sungguh suatu tempat di atas bukit yang sangat indah dan sejuk. Tak lupa di situ kami pun berdoa atas segala kenikmatan ini. Kami pun mengunjungi kapel di dekat situ untuk berdoa juga dan istirahat sejenak sebelum akhirnya turun kembali. Jalur pendakian dan turun Totombok dibedakan agar peziarah yang naik dan turun tidak "paadu" atau "pasalingsingan".
Setelah turun kami pun memutuskan untuk menginap di hotel dekat situ, karena hari sudah malam. Baru keesokan harinya kami pulang kembali ke Bandung dengan membawa banyak kenangan dan juga berkat dari peziaran kami tersebut.
Segitu mungkin cerita singkat pengalaman saya di Totombok yang sungguh berkesan di hati. Semoga cerita ini bermanfaat bagi semuanya. Akhir kata saya ucapkan terima kasih. Mugia berkah sareng rahmat ti Gusti urang Yesus nyarengan anjeun sadayana. Amin
(Karya orisinil Deki Bagus H)
Bintang Timur Gemilang
Oo Bintang gilang-gemilang
Sang Bintang yang menerangi dunia raya
Oo Sang Terang Dunia
Terang dari segala terang
Keturunan Raja Besar Daud
Sang Bintang Timur Gemilang
Raja baru bagi Israel
Sang Ilahi yang telah turun
Dari Surga Mulia
Menjadi penerang segenap dunia
Ya, Kau Sang Bintang Gemilang
Yesus Yesus Kau Sang Terang itu
Terang dari Terang
Allah yang benar dari allah benar
Dalam rupa manusia
Kau menebus dunia dengan Darah-Mu
Allah Allah, apakah kami ini hingga Kau mau menebus kami ?
Oo Bintang Gemilang
Raja Semesta Alam
Segala mahluk menyembah Dikau
Malaikat, manusia, gunung
Semua tunduk sujud di bawah kaki-Mu
Ya Yesus ampunilah kami
Ampunilah kami Ya Bintang Gemilang
Ooo Bintang Gilang-Gemilang
Yesus Kristus Tuhan dan Allah
Salam bakti bagi-Mu
(puisi orisinil karya Deki Bagus H)
Thursday, June 13, 2013
APA ITU ADORASI SAKRAMEN MAHAKUDUS?
Ketika kamu maju untuk menerima Komuni Kudus di gereja, pernahkah kamu bertanya kepada dirimu sendiri, “Apakah yang aku makan?” Wah, itu pertanyaan yang salah! Komuni Kudus bukan suatu benda!
Seharusnya kamu bertanya, “Siapakah yang aku terima?” Komuni Kudus adalah seorang pribadi. Yaitu pribadi Yesus dari Nazaret - orang yang sama yang dilahirkan pada hari Natal dan yang wafat disalib, Putra Tunggal Allah yang Kekal.
Orang sering melupakan hal ini karena Komuni tidak seperti seorang manusia atau pun suatu makhluk ilahi. Ketika kita menerima Komuni Pertama kita, mungkin kita memikirkannya, tetapi kemudian kita segera lupa akan hal tersebut.
Gereja melakukan sesuatu untuk mengingatkan kita, yaitu dengan “Adorasi”. Adorasi membantu kita menyadari bahwa Tuhan sungguh nyata hadir secara pribadi dalam Sakramen Mahakudus. Imam mentahtakan Hosti Kudus dalam suatu tempat yang disebut monstran (artinya `mempertontonkan'). Kita bersembah sujud pada Yesus. Kita mengatakan pada-Nya betapa kita mencintai-Nya dan menyembah-Nya. Inilah yang disebut “Adorasi Sakramen Mahakudus”. Kita tidak menyembah roti, tetapi kita menyembah Putra Allah.
Pada akhirnya, Yesus Sendiri memberkati kita secara pribadi. Sesungguhnya, bukan imam yang memberkati, melainkan Tuhan Sendiri. Damai Tuhan menyertaimu selalu. (Amien)
GEREJA TERTUA DI TANAH AIR
Sebagai seorang umat Katolik Roma, khususnya di Keuskupan Bandung, saya akan membahas sedikit tentang gereja-gereja tua yang ada di Indonesia, diantaranya adalah :
1. Gereja Katedral Jakarta (nama resmi: Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga, nama Belanda : De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming) adalah sebuah gereja Katolik di Jakarta. Gedung gereja ini diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu.
Gereja yang sekarang ini dirancang dan dimulai oleh Pastor Antonius Dijkmans dan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Provicaris Carolus Wenneker. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh Cuypers-Hulswit ketika Dijkmans tidak bisa melanjutkannya, dan kemudian diresmikan dan diberkati pada 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Jakarta.
Katedral yang kita kenal sekarang sesungguhnya bukanlah gedung gereja yang asli di tempat itu, karena Katedral yang asli diresmikan pada Februari 1810, namun pada 27 Juli 1826 gedung Gereja itu terbakar bersama 180 rumah penduduk di sekitarnya. Lalu pada tanggal 31 Mei 1890 dalam cuaca yang cerah, Gereja itu pun sempat roboh.
Pada malam natal, 24 Desember 2000, Gereja ini menjadi salah satu lokasi yang terkena serangan ledakan bom.
2. Gereja Katedral Bogor mempunyai nama paroki resmi Santa Perawan Maria. Beralamat di Jalan Kapten Muslihat Nomor 22, Bogor.
Awalnya merupakan sebuah gereja Paroki Bogor yang termasuk dalam wilayah Prefektur Apostolik Sukabumi. Bersamaan dengan berubahnya status Prefektur Apostolik Sukabumi menjadi Keuskupan dengan nama Keuskupan Bogor. Gereja Paroki Bogor kemudian dijadikan sebagai Gereja Katedral Keuskupan Bogor.
3. Gereja Katedral Bandung, atau Katedral Santo Petrus, adalah sebuah gereja yang terletak di Jalan Merdeka, Bandung, Indonesia. Bangunan ini dirancang oleh Ir. Charles Proper Wolff Schoemaker dan bergaya arsitektur neo-Gothic akhir. Dilihat dari atas, bentuknya menyerupai salib yang simetris. Katedral Santo Petrus mempunyai luas tanah sebesar 2.385 m² dan luas bangunan sebesar 785 m².
Gerejanya sendiri diberi nama St. Franciscus Regis pada tanggal 16 Juni 1895. Setelah Bandung memperoleh status gemeente (setingkat kotamadya) pada 1906, diputuskan untuk membangun bangunan gereja baru. Pembangunan bangunan yang baru dilaksanakan sepanjang tahun 1921. Katedral ini lalu diberkati pada 19 Februari 1922 oleh Mgr. E. Luypen.
Ketiga gereja Katedral tersebut diatas adalah gereja-gereja Katolik tertua yang ada di Tanah Air Indonesia. Saya berharap dengan adanya artikel ini bisa menambah pengetahuan umat mengenai sejarah gereja Katolik, gereja kita semua. Akhir kata saya ucapkan terima kasih. Semoga damai sejahtera Tuhan kita Yesus Kristus menyertai anda sekalian. Alleluya!
Sebagai seorang umat Katolik Roma, khususnya di Keuskupan Bandung, saya akan membahas sedikit tentang gereja-gereja tua yang ada di Indonesia, diantaranya adalah :
1. Gereja Katedral Jakarta (nama resmi: Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga, nama Belanda : De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming) adalah sebuah gereja Katolik di Jakarta. Gedung gereja ini diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu.
Gereja yang sekarang ini dirancang dan dimulai oleh Pastor Antonius Dijkmans dan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Provicaris Carolus Wenneker. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh Cuypers-Hulswit ketika Dijkmans tidak bisa melanjutkannya, dan kemudian diresmikan dan diberkati pada 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Jakarta.Katedral yang kita kenal sekarang sesungguhnya bukanlah gedung gereja yang asli di tempat itu, karena Katedral yang asli diresmikan pada Februari 1810, namun pada 27 Juli 1826 gedung Gereja itu terbakar bersama 180 rumah penduduk di sekitarnya. Lalu pada tanggal 31 Mei 1890 dalam cuaca yang cerah, Gereja itu pun sempat roboh.
Pada malam natal, 24 Desember 2000, Gereja ini menjadi salah satu lokasi yang terkena serangan ledakan bom.
2. Gereja Katedral Bogor mempunyai nama paroki resmi Santa Perawan Maria. Beralamat di Jalan Kapten Muslihat Nomor 22, Bogor.
Awalnya merupakan sebuah gereja Paroki Bogor yang termasuk dalam wilayah Prefektur Apostolik Sukabumi. Bersamaan dengan berubahnya status Prefektur Apostolik Sukabumi menjadi Keuskupan dengan nama Keuskupan Bogor. Gereja Paroki Bogor kemudian dijadikan sebagai Gereja Katedral Keuskupan Bogor.
3. Gereja Katedral Bandung, atau Katedral Santo Petrus, adalah sebuah gereja yang terletak di Jalan Merdeka, Bandung, Indonesia. Bangunan ini dirancang oleh Ir. Charles Proper Wolff Schoemaker dan bergaya arsitektur neo-Gothic akhir. Dilihat dari atas, bentuknya menyerupai salib yang simetris. Katedral Santo Petrus mempunyai luas tanah sebesar 2.385 m² dan luas bangunan sebesar 785 m².
Gerejanya sendiri diberi nama St. Franciscus Regis pada tanggal 16 Juni 1895. Setelah Bandung memperoleh status gemeente (setingkat kotamadya) pada 1906, diputuskan untuk membangun bangunan gereja baru. Pembangunan bangunan yang baru dilaksanakan sepanjang tahun 1921. Katedral ini lalu diberkati pada 19 Februari 1922 oleh Mgr. E. Luypen.
Ketiga gereja Katedral tersebut diatas adalah gereja-gereja Katolik tertua yang ada di Tanah Air Indonesia. Saya berharap dengan adanya artikel ini bisa menambah pengetahuan umat mengenai sejarah gereja Katolik, gereja kita semua. Akhir kata saya ucapkan terima kasih. Semoga damai sejahtera Tuhan kita Yesus Kristus menyertai anda sekalian. Alleluya!
Subscribe to:
Posts (Atom)




